MEET
Siang ini SOPA (Seoul Performing Art High School) terlihat ramai seperti biasanya. Jam makan siang membuat kantin penuh dengan siswa-siswi yang sedang kelaparan. Di sekolah ini kita bisa menemukan banyak artis yang berlalu lalang, kebanyakan dari mereka adalah member boy/girl band terkenal di Korea.
Shin Mi Cha memilih duduk di paling sudut kantin bersama salah satu member girl band yang sedang naik daun Jung Rae Mi. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang seru hingga tertawa terbahak-bahak, keduanya tampak seperti perpaduan yang pas. Bahkan, banyak orang yang mengira Mi Cha juga seorang artis, karena wajahnya yang sangat memenuhi kriteria untuk menjadi artis. Tapi tidak, Mi Cha tak pernah membayangkan sekalipun ingin menjadi girl band atau apalah itu. Ia hanya ingin menjadi pianis terkenal karena ia sangat tergila-gila dengan alat musik yang satu itu.
‘Hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan, aku harus makan banyak’ pikir Mi Cha.
“yaa! Mi Cha. Bisakah kau makan pelan-pelan? Astaga cantik-cantik tapi kok makannya gitu sih?” kata Rae Mi mengomentari Mi Cha
“Jung Rae Mi sayang, makan itu harus dinikmati biar kita bisa kenyang dengan sempurna. Apa salahku sih? Aku hanya menggunakan mulutku untuk mengunyah dengan baik.” Jawab Mi Cha sekenanya.
“kau itu kan wanita seharusnya kalau makan seperti ini.” kata Rae Mi seraya memperagakan cara makan wanita yang baik ‘menurutnya’ kepada Mi Cha.
“kau tau, kalau aku makan dengan gayamu mungkin aku akan menghabiskan setengah hidupku cuma untuk makan semangkuk tteokbokki.” Sahut Mi Cha
“Tidak selama itu juga, ah kau ini Mi Cha terserahlah” kata Rae Mi tampak kesal.
“hahah, iya-iya nanti akan kuperbaiki cara makanku, tapi sebaiknya kamu juga memperhatikan makananmu. Maksudku mau sampai kapan kamu hanya makan salad seperti ini? apakah kamu tidak tertarik untuk makan ayam atau daging? Wah kamu wanita yang merugi Rae Mi.” kali ini giliran Mi Cha yang mengomentari Rae Mi.
“seandainya aku bisa aku mau Mi Cha, tapi kan kau tau sendiri untuk menjadi public figure itu harus menjaga tubuh, kau mau aku dibilang babi jika aku gemuk karena terlalu banyak makan daging?” jawab Rae Mi dengan ekspresi yang sangat menyedihkan.
“kadang aku iri denganmu Mi Cha, melihatmu makan selahap ini kurasa 1 ton dagingpun yang kau makan kau tak akan pernah gemuk.” Lanjut Rae Mi.
“hahah, kau terlalu berlebihan Rae Mi. sudahlah, jangan bahas tentang makanan lagi.” Kata Mi Cha lalu meminum jus jeruknya.
“oh iya, nanti kita jadi kan ke Times Square? Nanti malam kan akan jadi malam yang penting, jadi kamu juga harus tampil yang cantik dong.” Kata Mi Cha membuka pembicaraan baru.
“terserah kau saja lah Mi Cha, walau kutolak pun kau akan tetap bersikeras untuk mengenalkanku dengan temannya temanmu itu.”jawab Rae Mi pasrah.
“hahah iya dong, aku itu pengennya, besok kalau aku jadi pindah rumah dan pindah sekolah kamu ga kesepian disini, setidaknya ada orang yang membahagiakanmu heheh.” Kata Mi Cha yang di sambut dengan ekspresi kesedihan Rae Mi.
“makanya jangan pindah” sahut Rae Mi disertai dengan bibirnya yang membentuk huruf U terbalik.
“aku hanya ikut mama dan papa Rae Mi. Sudahlah jangan sedih, nanti aku akan sering-sering mengunjungimu” kata Mi Cha menenangkan Rae Mi.
Bagaimana tidak sedih ditinggal satu-satunya sahabat yang paling dia sayang, Rae Mi pun tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Walaupun Mi Cha kadang bisa menjadi orang yang paling menyebalkan tapi Mi Cha adalah gadis yang nyaris sempurna yang pernah Rae Mi temui.
Awal pertemuan mereka memang bukan awal yang indah untuk dikenang. Pada saat itu Mi Cha menemukan Rae Mi yang sedang di bully habis-habisan di toilet sekolah. Beruntungnya ayah Mi Cha merupakan salah satu donatur bagi sekolah sehingga Mi Cha dapat menghentikan pembulian itu dengan mudah.
Entah apa motif senior yang membully Rae Mi, Rae Mi hanya ingat kalau senior-senior itu tak terima ketika Rae Mi dapat debut di girl bandnya saat ini. Semenjak saat itulah Mi Cha dan Rae Mi menjadi sahabat yang tak terpisahkan.
***
Shin Mi Cha’s POV
Sekolah yang membosankan sudah berakhir, sekarang saatnya untuk shopiinnggg.
“kau ini lama sekali sih Rae Mi, ayo.. nanti keburu malam” kataku tak sabar.
Aku tak sabar sekali ingin mengenalkan Rae Mi kepada seseorang, aku sangat ingin melihat Rae Mi bahagia dan tersenyum hingga mukanya memerah di depan seorang laki-laki. Hahah membanyangkannya saja lucu sekali.
Walaupun sebelumnya aku tak pernah melihat secara langsung yang ingin dikenalkan dengan Rae Mi. Tapi aku percaya dengan Nam Joon sahabatku sedari kecil yang bersekolah di Gayo High School. Kata Nam Joon orangnya baik dan tampan. Itu sudah cukup buatku.
Aku mengambil ponselku di dalam tas dan mengetik nama seseorang untuk di telpon.
“yeoboseo Rapmon-ah? Bagaimana dengan malam nanti? jadi kan? … oh iya iya.. oke sip” kataku lalu menutup telpon dengan bahagia.
***
Times Square ramai sekali hari ini, untung saja Rae Mi sudah mendapatkan baju yang cocok untuknya. Sekarang aku tinggal menunggu ia selesai dandan di salon langgananku. Sepertinya 5 menit lagi selesai
Aku menghampiri Rae Mi yang sudah selesai dan tinggal memakai high heels nya. Wah, dia cantik sekali. Dress peach yang dipakainya sangat menyatu dengan warna kulitnya, belum lagi tatanan rambutnya yang coklat dan dibuat sedikit bergelombang menambah keanggunannya.
Sekilas, aku jadi melihat pantulan diriku di kaca, kaos putih lebar, celana denim pendek, topi baseball putih ditambah sepatu kets putih sebagai pelengkapnya. Hahah, aku jadi tidak serasi ini jika berjalan berdua dengan Rae Mi. aku jadi seperti asistennya ya ampun x_x.
Sebelumnya Rae Mi juga memintaku untuk membeli baju dan berdandan sepertinya. Tapi, menurutku itu hanya membuang-buang uang. Lagian yang mau ketemu itu kan Rae Mi bukan aku. Aku hanya memantau dari jauh saja, kenapa aku harus repot-repot berdandan juga?
“nah kalau sudah selesai, kita langsung saja ke cafenya, sekarang sudah jam setengah 7 ini” kataku seraya menggandeng tangan Rae Mi meninggalkan salon.
“dimana cafenya?” tanya Rae Mi
“di deket sini kok, namanya Momo Café Courtyard. Pokoknya cafenya bagus, aku lumayan sering kesana.” Jawabku menjelaskan.
***
Sekarang aku sudah berada di café yang indah ini, suasana disini sangat nyaman dan terasa hangat. Ternyata Nam Joon sudah memesan dua meja, satu untuk Raemi dan temannya yang aku bahkan lupa siapa namanya. Lalu satunya lagi untuk ku dan Nam Joon yang berjarak sekitar 2 meja dari mereka.
Sepertinya ponselku bergetar. “yeoboseyo? Ada apa Rapmon-ah? Kau tak bisa datang? Yah, aku jadi obat nyamuk sendirian dong. Ya sudahlah.. temanmu bagaimana? Sudah pergi? Rae Mi sudah menunggunya disini. Baiklah.. 5 menit lagi yah? Oh itu itu aku sudah liat ada laki laki masuk. Pakai kemeja hitam kan? Iya, iya kau sudah memberi tau nomor mejanya kan? Sip, dia sudah duduk bersama Rae Mi. oke, sampai jumpa.” Aku menutup telpon.
Disana aku melihat ada seorang laki-laki yang sudah duduk berhadapan dengan Rae Mi tapi sayangnya ia membelakangiku jadi aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Yang terlihat hanya wajah Rae Mi yang mengajak laki-laki itu berbicara dengan canggung. Hahah lucu sekali melihatnya.
Satu jam sudah berlalu, makanan pun sudah diantarkan ke meja mereka. Tapi sepertinya ada yang aneh, kenapa Rae Mi jadi diam? Kenapa laki-laki itu juga diam? Astaga mereka pikir disini ada kontes tidak boleh berbicara? Ya ampun. Kenapa mereka hanya makan dengan diam seperti itu? Eh tunggu dulu. Apa Rae Mi menangis? Dia seperti mengusap matanya sebentar.
15 menit kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan Rae Mi keluar café. Tega sekali dia meninggalkan wanita sendirian, kenapa Rae Mi tampak sedih? Wah, ini tak bisa dibiarkan, apa yang laki-laki itu lakukan pada Rae Mi?.
Secepat kilat aku memilih mengejar laki-laki itu keluar café, dia harus diberi pelajaran. Belum tau dia siapa Shin Mi Cha.
Aku melihat laki-laki itu menuruni sebuah tangga. Beberapa meter di depanku.
“yaa! Kau yang berkemeja hitam seperti orang berduka. Diam di tempat.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku tidak peduli ada beberapa orang yang melihat kearahku. Dia harus segera kuberi pelajaran.
“hei! Berhenti kau.” Kali ini teriakanku sukses membuatnya berhenti dan membalikkan badannya. Karena ia yang spontan berhenti membuatku tak sengaja menabraknya. Omo, apa yang akan kulakukan.?
Aku hanya diam ketika mata kami bertemu. Sepertinya wajahnya tak asing lagi bagiku. Tapi siapa? Aku rasa aku tak pernah bertemu dengan orang seperti ini sebelumnya.
“ada perlu apa?” katanya membuyarkan lamunanku.
BERSAMBUNG…
haii... makasih yang udah mau baca, buat kamu yang punya wattpad bisa langsung add ke NurayaRM .. buat yang punya twitter bisa mention ke @nuraya17_ ... annyeong!! ^_^
haii... makasih yang udah mau baca, buat kamu yang punya wattpad bisa langsung add ke NurayaRM .. buat yang punya twitter bisa mention ke @nuraya17_ ... annyeong!! ^_^







0 comments:
Post a Comment